Bogor, Senin (15 Juni 2009) — Sebanyak 5.297 siswa jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan sekolah luar biasa (SLB) dari 33 provinsi di Indonesia mengikuti ajang Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (O2SN) 2009. Kegiatan yang berlangsung mulai 15 – 19 Juni 2009 di berbagai tempat di Jakarta ini melombakan dan mempertandingkan sebanyak 15 cabang olah raga.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menyampaikan, penyelenggaraan kegiatan O2SN merupakan upaya sistematis untuk meletakkan pondasi dan tradisi keunggulan di bidang olah raga bagi siswa – siswa SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. “Indonesia sudah menunjukkan supremasinya pada tingkat dunia di bidang sains dan Matematika. Saya mengharapkan bahwa kita pun juga menunjukkan supremasi yang sama pada bidang olah raga,” katanya saat membuka O2SN di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jawa Barat, Senin (15/6/09).
Hadir pada acara Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika, Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dirjen PMPTK) Depdiknas Baedhowi, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen) Depdiknas Suyanto, Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad dan sejumlah pejabat eselon II Depdiknas.
Mendiknas mengatakan, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menjadikan manusia cerdas, tetapi melalui pendidikan terwujud manusia yang tangguh dan segar bugar baik fisik dan jiwanya. Menurut Mendiknas, olah raga sebagai bagian dari program pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan disiplin siswa. Hal tersebut, kata Mendiknas, menjadi indikator dari kompetensi kinestetika. “Keterlibatan siswa pada O2SN ini diharapkan menjadikan siswa mempunyai sportivitas. Dalam sportivitas tidak berarti hanya yang kalah mengakui kemenangan pihak lain. Akan tetapi, di sisi lain juga yang menang menunjukkan empati kepada pihak yang dikalahkan,” katanya.
Pembukaan acara dimeriahkan dengan pentas seni suara dan band siswa SLB. Selain itu, ditampilkan Oratorium Bianglala Nusantara oleh para siswa SMK Negeri 10 Bandung, Jawa Barat.
Dirjen Mandikdasmen Depdiknas Suyanto melaporkan, O2SN 2009 merupakan tahun kedua setelah mengintegrasikan semua jenjang dari pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB secara serentak dalam satu kegiatan. Sebelumnya, kata dia, kegiatan olimpiade olah raga seperti ini diselenggarakan oleh masing – masing direktorat yang ada di Direktorat Jenderal Mandikdasmen. “Pengintegrasian ini diharapkan lebih membangkitkan semangat berprestasi di kalangan siswa sekolah maupun pemerintah daerah karena even ini menjadi lebih masal dan lebih monumental,” katanya.
Suyanto mengatakan,dari sebanyak 15 cabang olah raga yang dilombakan terdapat sebanyak delapan cabang olah raga yang diikuti mayoritas siswa antara lain meliputi atletik, senam, renang, bulutangkis, sepak bola, bola voli, tenis lapangan, dan tenis meja. Adapun atlet SLB mengikuti empat cabang olah raga yang terdiri atas atletik, bulutangkis, tenis meja, dan catur. “Di samping itu, atlet dari SD dan SMP sudah mulai mengikuti olah raga asah otak yaitu catur dan bridge,” katanya.
Suyanto menyebutkan, dari sebanyak 5.297 peserta jumlah terbanyak adalah dari atlet SMP yaitu sebanyak 1.683 siswa atau 31,77 persen, sedangkan yang paling sedikit adalah atlet SLB yaitu sebanyak 268 siswa atau 5,06 persen. Dia menyampaikan, pada ajang yang melibatkan sebanyak 1.800 juri ini, cabang olah raga yang paling diminati adalah bola voli, bola basket, dan atletik. “Jumlah ini menunjukkan minat para siswa terhadap cabang olah raga yang selama ini dikompetisikan,” katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas